Menjadi dokter gigi anak bisa dibilang susah-susah gampang. Apalagi kalau yang menangani pasien yang ‘luar biasa’. Luar biasa bandel, luar biasa takut, luar biasa manja. Nah, ini menjadi tantangan tersendiri buat saya dan pasti ini juga berlaku bagi teman-teman drg lainnya.

pict taken from : getty images

Suatu kali saya mendapat pasien anak-anak, usia 6 tahun dengan keluhan gigi goyang dan gigi permanennya sudah tumbuh. Jadi mau tidak mau harus dicabut. Sebut saja namanya Adi, ia anak tunggal dan sepertinya lumayan dimanja oleh kedua orang tuanya. Untuk  melihat giginya saja sudah butuh perjuangan yang lumayan ekstra. 15 menit untuk bisa duduk di dental chair setelah berguling-guling di lantai,  kejar-kejaran di ruang tunggu pasien dengan sang bunda, bahkan sedikit cubitan dari bapaknya.

Dipangku bundanya ternyata lumayan menenangkan si Adi.

“Gimana Adi? Udah gpp kan? Tante Mia cabut ya giginya, boleh kan?”

Adi melirik wajah ayahnya yang sudah pasang tampang sangar.

“Iya deh tante, dicabut aja, tapi ga sakit kan????”

“Ga kok, percaya deh, kaya digigit semut. Sekarang pake yang dingin-dingin dulu ya biar ga berasa sakit waktu dicabut”

“Janji tante, ga sakit ya”

*pasang senyum lebar* “Iya Adi, sakit dikit aja kok”

Setelah semprot-semprot Chlor Ethyl (obat bius ringan untuk cabut, terasa dingin saat ditempelkan ke sekitar gigi), eh ternyata Adi berontak lagi. “Takuut”, ia menjerit dan menangis.

Jiaaah.. Ngerayu ulang nih jadinya. 10 menit berlalu. Kembali saya mengulang semprot CE. Eh ga bisa juga, Adi selalu berontak, padahal sudah dipegang ayahnya, tapi mungkin karena anak tunggal jadi ayahnya gemes dan kurang tega. Sampai setengah jam dan menghabiskan seperempat botol CE saya menyerah.

“Adi, niat cabut beneran ga? Kalau ga mau lain kali aja, kan sayang obat tante mahal-mahal kebuang percuma?”

“Ga berani tante, lain kali aja”

Perjuangan saya setengah jam lebih tidak berhasil. Gemes juga sih, kasus gampang tapi tidak berhasil. Seminggu kemudian Adi dan kedua orang tuanya datang lagi.

“Dok, coba lagi deh, Adi sudah kami bujuk akan dibelikan mobil kalau mau cabut”, ujar si ayah.

Siplah. Mari dilihat peruntungan saya kali ini.

Adi sudah duduk manis di pangkuan ayahnya, tapi begitu ia melihat saya menyemprotkan Chlor Ethyl di tampon langsunglah ia teriak, “Dokteeerrr!!! Jangan pake semprot-semprotan lagi tante dokterr, Tolong dokteeerrr. Takuuuttt, lagian kan dokter bilang itu mahal obatnya, ga usah pake itu ya doookk!!!”

Ampun dije deh, dari yang gemes saya dan orang tua Adi malah ketawa. Siyall, pinter juga ini anak :p

Moral Lesson from me : Sedari kecil walaupun tidak sakit gigi sebaiknya anak sekali-sekali diajak orang tua berkunjung ke dokter gigi. Sekedar untuk melihat-lihat dan mengenal dokter gigi. Jadi ketika ia datang tidak dengan keadaan ‘sakit’ dan harus dilakukan tindakan yang menurutnya berbahaya.